Pakistan is a South Asian country, located just above the Tropic of Cancer. It shares borders with India (East), China (North-East), Afghanistan (North West) and Iran (West), while Arabian Sea (1046 km/650 mi) marks its Southern boundary.
Pakistan gained sovereignty from British India on August 14, 1947. Its inception has been credited to many people, eminent of who were: the great thinker and poet Iqbal, and the Jinnah (Quaid-e-Azam or The Great Leader). Creation of Pakistan saw one of the biggest migrations of history as millions of Muslims left India for the new born state.
Pakistan comprises of four provinces, namely Punjab, Sind, Baluchistan and Khyber-Pakhtunwa; a capital territory and federally administered tribal areas (FATA). Pakistan also exercises de facto authority over Gilgit-Baltistan and a part of Kashmir area. Pakistan is an Islamic Republic and has a Parliamentary style of government. The Government representatives (for the National and Provincial Assembly) are selected in a general election, who in turn selects the President (Head of State). Prime Minister is usually the leader of the largest political party in National Assembly. Provinces have an identical form of government as well. Pakistan is an active member of United Nations (UN), Organization of Islamic Conference (OIC), Commonwealth of Nations (CoN), South Asian Association for Regional Cooperation (SAARC), Economic Corporation Organization (ECO), Non-Aligned Movement (NAM), Developing-8 (D8), Group of 20 Developing Nations (G-20) and World Trade Organization (WTO). Pakistan is also a Major Non-NATO Ally (MNNA).
The culture of Pakistan is the result of amalgamation of centuries old Indus Valley civilization; rule of ancient empires; conquerors and warriors of west, including Aryans, Greeks etc and Islamic Revolution. Furthermore, all the four provinces have their own individuality and this all culminates to give a unique and exquisite, ethnically and linguistically diverse, identity to Pakistan. Urdu is the national language of Pakistan and English is the official one. Besides, other major lingos include Punjabi, Sindhi, Balochi and Pashto. An increasing trend has been to master foreign languages like Chinese, German, and Arabic etc.
This country has been blessed with a very diverse landscape and climate. Himalayas are in Northern part; Rivers and one of the world’s most fertile agrarian lands in middle; beautiful desserts and a long coast line in South: all combine to make Pakistan a must-visit place. Weather and climate is quite varied as well. Pakistan enjoys all four seasons, year long.
Pakistan is situated at the crossroads of South Asia, the Middle East, and Central Asia. Its strategic position has also been cemented as landlocked Central Asian states use Pakistan as their economic survival corridor.
Despite having, an excellent base to prosper on, Pakistan still is a developing country. With a GDP of US$167 billions and a per capita income of US$ 2,942, Pakistan has the second largest economy in South Asia, and 48th largest in the world (27th is terms of purchasing power). High population (over 175 million and world’s sixth-most populous country), high poverty (25% of total population), foreign debts (US$45 billion) and current economic recession have hindered the economic growth in recent years.
Category Archives: islam
Tirulah Sifat Jujur Abubakar
JUJUR adalah sifat terpuji. Secara naluri, semua orang suka kejujuran. Namun, secara aplikasi, tidak semua orang bisa berlaku jujur. Orang yang berbusa-busa menyuarakan kejujuran, belum tentu berperilaku jujur. Kenapa? Karena jujur tidak cukup ditimbang dengan apa yang diucapkan di lisan seseorang saja. Menyerukan kejujuran harus butuh bukti dalam kehidupan nyata.
Selain itu, menjadikan jujur sebagai karakter yang mengakar di hati, juga menjadi syarat akan kebenaran kejujuran seseorang. Belum bisa disebut orang jujur, manakala tiga komponen ini, hati, lisan, dan perbuatan, belum bersatu-padu dalam diri seseorang, atau dengan bahasa lain masih parsial, dekotomi.
Terkadang ada orang yang jujur hatinya saja, namun lisannya belum mampu mengucapkannya. Atau, lisannya yang mampu berkata jujur, tapi perbuatannya belum bisa membenarkannya. Ada pula, sekedar perbuatannya yang sepertinya melakukan kejujuran, tapi hati dan lisannya mengingkari itu semua.
Tentu perilaku macam ini, yang memisahkan antar komponen tersebut tidak dibenarkan dalam konsep kejujuran. Dan realitas di lapangan, khususnya di negeri kita, justru mala praktek macam ini yang malah menyeruak di tengah-tengah lapisan masyarakat, baik itu rakyat jelata, atau pun para pemimpinnya. Mulai dari pengusaha, hingga bawahan-bawahannya.
Sebagai contoh. Setiap para pejabat disumpah, mereka selalu berjanji dangan sumpah dengan ditandai meletakkan kitab suci masing-masing di atas kepala mereka. Apakah kemudian mereka juga jujur? Buktinya tidak juga. Justru terkadang, di kemudian hari terbongkar tindak pidana korupsinya.
Seorang pelajar (siswa/mahasiswa) yang hampir setiap saat dididik untuk menjadi pribadi yang jujur, namun masih banyak juga ketika ujian mereka menyontek.
Fenomena di atas setidaknya sebagai cermin, bahwa praktek kejujuran belum seutuhnya teraplikasi dalam sebagian besar masyarakat kita dengan benar. Sikap ini terjadi di semua lini di antara kita. Karyawan marketing memark-up kwitansi, sopir memark-up bensin, petugas jalanan “mengutip” pungutan, jaksa, hakim dan petugas hukum juga masih menerima suap. Bahkan orang antri ingin masuk PNS dengan suap. Pegawai korupsi waktu. Semua lini selalu ada korupsi.
Padahal Rosulullah pernah mengatakan, “As-shidqu yahdii ila al-birri” (Kejujuran itu mengarahkan ke pada kebaikkan).
Kisah Abu Bakar
Dalam sejarah, terdapat salah satu sosok manusia yang mampu menampilkan kejujuran yang benar, selain Nabi Muhammad Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) adalah Abu Bakr. Dia merupakan sahabat yang pertama yang beriman ke pada Nabi dari golongan laki-laki dewasa.
Kejujurannya telah teruji semenjak awal dia masuk Islam. Hal tersebut terbukti -salah satunya- di tengah-tengah kaum Quraisy mengingkari dan bahkan menghina Nabi dengan peristiwa Isra’ dan Mi’raj, Abu Bakr justru menjadi orang pertama yang meyakini kebenaran hal tersebut.
Bahkan, dia berani menantang kaum kafir, bahwa kalau saja ada berita yang lebih dahsyat dari peristiwa Isra’ dan Mi’raj, maka dia akan mempercayai hal tersebut tanpa sedikitpun meragukannya.
Kejujuran Abu Bakr ini, kemudian terwujud dengan tindakan nyata. Dia tidak pernah meragukan akan apa yang telah menjadi janji Allah dan Rosul-Nya. Dan hal itu setidaknya tergambar dengan keberaniannya menyerahkan kepada Nabi seluruh harta bendanya demi memperjuangkan kejayaan Islam pada suatu peperangan.
“Aku tinggalkan mereka Allah dan Rosul-Nya”. Hanya kalimat singkat ini lah yang terlontar dari lisan Abu Bakr, ketika Rosulullah bertanya tentang apa yang dia sisakan untuk keluarganya, kalau semua kekayaannya dia serahkan fii sabilillah.
Karena kejujurannya ini, yang telah menjadi gaya hidupnya, beliau pun mendapat julukan sebagai As-Shiddiq (orang yang membenarkan). Tidak itu saja, jaminan ‘tiket’ masuk surga secara langsung, pun telah beliau genggam dari Rosulullah. Allahu Akbar !!!.
Lain Abu Bakr, lain pula Abu Tholib. Beliau adalah orang jujur, yang meyakini akan kebenaran ajaran Rosulullah. Selain itu, beliau pun membuktikan akan kejujuran hatinya dengan tindakannya yang selalu melindungi perjalanan dakwah Rosulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم). Sayang hanya karena kurang satu dimensi saja, pengucapan (lisan), perilaku jujur itu pun ‘mandul’, tidak menghasilkan apa-apa di sisi Allah. Dia pun akhirnya mati dalam kekafiran yang tempat kembalinya adalah neraka.
Apa lagi dengan sosoknya Abu Lahab. Secara naluri (Baca: hati) beliau mengakui akan kebenaran risalah Nabi Muhammad Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم). Namun, karena lisannya dan tindakkannya berpaling dari keyakinan hatinya, maka dia pun mati dalam keadaan kafir pula, dan tempat kembalinya adalah neraka.
Dari sini kita bisa mengambil benang merah, bahwa seyogyanya kita mengikuti jejak Abu Bakar dalam mempraktekkan kejujuran kita dalam segala aspek kehidupan. kita harus meyakini bahwa sesuatu yang benar itu adalah benar, tanpa diiringi keraduan sedikitpun. Dan suatu yang salah itu adalah salah. Tidak cukup itu saja, tindakkan kita pun harus menunjukkan hal tersebut, dan terakhir kita pun harus berani mensuarakannya ke pada khalayak umum.
Sebaliknya, jangan sampai kita berperilaku jujur dengan kejujuran ala Abu Thalib, lebih-lebih Abu Lahab. Sungguh perilaku macam ini sama sekali tidak akan membawa keuntungan sedikit pun bagi kita di dunia lebih-lebih di akhirat kelak. Kerana itu kita harus menjauhinya.
Pintu kemunafikan
Lawan dari pada jujur adalah dusta. Dan sampai kapanpun dua hal ini tidak akan pernah bersinergi. Barangsiapa yang berperilaku jujur, maka pasti dia akan menjauhi sifat dusta. Begitu pula sebaliknya, barang siapa yang suka berdusta, maka secara otomatis dia akan memusuhi kejujuran.
Karena demikian, tidak jarang orang yang berperilaku jujur harus menghadapi resiko yang tidak kecil, terlebih jikalau dia hidup di tengah masyarakat yang telah menjadikan dusta sebagai strategi ilegal dalam meraih sesuatu, sebagaimana yang terjadi di negeri kita saat ini.
Sekali pun demikian, kita tidak boleh getir. Perinsip ‘Qul al-Haqqa wa lau kaana murran’ (katakan lah sebenarnya meskipun pahit), harus menjadi prinsip kita.
Biasanya, dusta atau kebohongan dilakukan seseorang untuk berbagai tujuan; misalnya untuk memperoleh keuntungan materi secara tidak fair, untuk membuat kesal atau mencelakakan orang lain, dan adakalanya untuk menutupi kebohongan yang lain.
Implikasi dari kebohongan juga berbeda-beda. Jika kebohongan itu pada hal yang bersifat informasi, implikasinya bisa menyesatkan atau mencelakakan orang lain. Jika kebohongannya pada janji, maka implikasinya pada mengecewakan atau merugikan orang lain. Jika kebohongannya pada sumpah maka implikasinya pada merugikan dan mencelakakan orang lain.
Nabi bersabda; “Sesunggguhnya kebohongan adalah satu di antara beberapa pintu kemunafikan, innal kizba babun min abwab an nifaq.”
Jadi orang yang melakukan kebohongan dan dusta berarti sedang berada dalam proses menjadi seorang munafik. Kata Nabi, tanda-tanda orang munafik itu ada tiga; (1) jika berkata, ia berdusta, (2) jika berjanji, ia ingkar dan (3) jika diberi kepercayaan, ia berkhianat.
Jika kebohongan dan dusta merupakan pintu kemunafikan, maka kejujuran merupakan pintu amanah. Sebagai contoh, Nabi memiliki sifat siddiq (benar dan jujur), maka sifat lain yang menyertainya adalah amanah (tanggungjawab), fathanah (cerdas) dan tabligh (menyampaikan secara terbuka apa yang mesti disampaikan).
Kebalikannya, dusta (kizib) akan diiringi oleh sifat curang (khiyanah), bodoh, yakni melakukan perbuatan bodoh (jahil) dan menyembunyikan apa yang semestinya disampaikan secara terbuka (kitman).
Rasulullah mengatakan, “Seorang mukmin memiliki tabiat atas segala sifat aib, kecuali khianat dan dusta.” (HR. Al Baazaar)
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud r.a, dari Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) bersabda: “Hendaklah kalian bersikap jujur karena kejujuran akan membawa kepada kebaikan dan kebaikan dapat mengantarkan ke surga. Sesungguhnya seseorang senantiasa jujur sehingga ditulis sebagai seorang yang jujur. Dan sesungguhnya dusta dapat menyeret kepada kejahatan dan kejahatan dapat menyeret ke dalam neraka. Sesungguhnya seseorang senantiasa berdusta hingga ditulis di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR Bukhari [6094]). Mudah-mudahan kejujuran kita membawa ke surga yang dijanjikan.
Ringkasan Biografi Empat Imam Mazhab
Imam Abu Hanifah [80H/699M- 150H/767M]
Imam Abu Hanifah atau nama sebenarnya Numan bin Tsabit bin Zhuthi’ lahir pada
tahun 80H/699M di Kufah, Iraq, sebuah bandar yang sudah sememangnya terkenal
sebagai pusat ilmu Islam pada ketika itu. Ianya diasaskan oleh ‘Abdullah ibn Mas’ud
radhiallahu ‘anh (32H/652M), seorang sahabat zaman Rasulullah shallahu ‘alaihi
wasallam. Ayahnya seorang pedagang besar, sempat hidup bersama ‘Ali bin Abi Thalib
radhiallahu ‘anh. Imam Abu Hanifah sekali-sekala ikut serta dalam urusniaga ayahnya
akan tetapi minatnya yang lebih besar ialah ke arah membaca dan menghafal
Al-Quran.
Imam Abu Hanifah pada satu hari telah berjumpa dengan seorang tokoh agama yang
masyhur pada ketika itu bernama as-Sya’bi. Melihatkan kepintaran dan kecerdasan
luar biasa yang terpendam dalam Imam Abu Hanifah, as-Sya’bi menasihatkan beliau
agar lebih banyak mencurahkan usaha ke dalam bidang ilmu-ilmu Islam. Dengan
nasihat dan dorongan as-Sya’bi, Imam Abu Hanifah mula menceburkan diri secara
khusus mempelajari ilmu-ilmu Islam.
Imam Abu Hanifah mula belajar dengan mendalami ilmu-ilmu qiraat, ilmu bahasa Arab
ilmu kalam dan lain-lain. Akan tetapi bidang ilmu yang paling diminatinya ialah ilmu
hadith dan fiqh. Beliau banyak meluangkan masa dan tenaga untuk mendalaminya.
Imam Abu Hanifah meneruskan pembelajarannya dengan bergurukan kepada
as-Sya’bi dan beberapa tokoh ilmuan lain di Kufah. Menurut riwayat, jumlah gurunya di
Kufah sahaja berjumlah 93 orang.
Beliau kemudiannya berhijrah ke bandar Basrah di Iraq, untuk berguru bersama
Hammad bin Abi Sulaiman, Qatadah dan Shu’bah. Setelah sekian lama berguru dengan
Shu’bah yang pada ketika itu terkenal sebagai Amir al-Mu’minin fi Hadith (pemimpin
umat dalam bidang hadith), beliau diizinkan gurunya untuk mula mengajar hadith
kepada orang ramai. Berkata Shu’bah:
“Sebagaimana aku ketahui dengan pasti akan kesinaran cahaya matahari, aku juga
ketahui dengan pasti bahawa ilmu dan Abu Hanifah adalah sepasangan bersama.”
Imam Abu Hanifah tidak hanya berpuas hati dengan pembelajarannya di Kufah dan
Basrah di Iraq. Beliau kemudiannya turun ke Makkah dan Madinah untuk menuntut
ilmu lagi. Di sana beliau duduk berguru kepada ‘Atha’ bin Abi Rabah. Kemudiannya
Imam Abu Hanifah duduk pula bersama Ikrimah, seorang tokoh besar agama di
Makkah yang juga merupakan anak murid kepada ‘Abdullah ibn ‘Abbas, ‘Ali bin Abi
Thalib ra, Abu Hurairah ra dan ‘Abdullah ibn ‘Umar radhiallahu ‘anhum. Kehandalan
Imam Abu Hanifah dalam ilmu-ilmu hadith dan fiqh diiktiraf oleh Ikrimah sehingga
beliau kemudiannya membenarkan Imam Abu Hanifah menjadi guru kepada penduduk
Makkah.
Imam Abu Hanifah kemudiannya meneruskan pengajiannya di Madinah bersama Baqir
dan Ja’afar as-Shadiq. Kemudiannya beliau duduk bersebelahan dengan Imam Malik
bin Anas, tokoh besar kota Madinah ketika itu. Walaupun Imam Abu Hanifah 13 tahun
lebih tua daripada Imam Malik, ini tidak menghalangnya untuk turut serta belajar.
Apabila guru kesayanganya Hammad meninggal dunia di Basrah pada tahun
120H/738M, Imam Abu Hanifah telah diminta untuk mengganti kedudukan Hammad
sebagai guru dan sekaligus tokoh agama di Basrah. Melihatkan tiada siapa lain yang
akan meneruskan perjuangan Hammad, Imam Abu Hanifah bersetuju kepada jawatan
tersebut.
Mulai di sinilah Imam Abu Hanifah mengajar dan menjadi tokoh besar terbaru dunia
Islam. Orang ramai dari serata pelusuk dunia Islam datang untuk belajar bersamanya.
Di samping mengajar, Imam Abu Hanifah adalah juga seorang pedagang dan beliau
amat bijak dalam mengadili antara dua tanggungjawabnya ini sebagaimana
diterangkan anak muridnya al-Fudail ibn ‘Iyyadh:
“Adalah Imam Abu Hanifah seorang ahli hukum, terkenal dalam bidang fiqh, banyak
kekayaan, suka mengeluarkan harta untuk sesiapa yang memerlukannya, seorang
yang sangat sabar dalam pembelajaran baik malam atau siang hari, banyak beribadat
pada malam hari, banyak berdiam diri, sedikit berbicara terkecuali apabila datang
kepadanya sesuatu masalah agama, amat pandai menunjuki manusia kepada
kebenaran dan tidak mahu menerima pemberian penguasa.”
Pada zaman pemerintahan Abbasid, Khalifah al-Mansur telah beberapa kali meminta
beliau menjawat kedudukan Qadhi kerajaan. Imam Abu Hanifah berkeras menolak
tawaran itu. Jawapan Abu Hanifah membuatkan al-Mansur marah lalu dia menghantar
Imam Abu Hanifah ke penjara. Akan tetapi tekanan daripada orang ramai
menyebabkan al-Mansur terpaksa membenarkan Imam Abu Hanifah meneruskan
pengajarannya walaupun daripada dalam penjara. Apabila orang ramai mula
mengerumuni penjara untuk belajar bersama Imam Abu Hanifah,al-Mansur merasakan
kedudukannya mula tergugat. Al-Mansur merasakan Imam Abu Hanifah perlu
ditamatkan hayatnya sebelum terlambat.
Akhirnya Imam Abu Hanifah meninggal dunia pada bulan Rejab 150H/767M (ketika
berusia 68 tahun), yakni ketika berada di dalampenjara disebabkan termakan
makanan yang diracuni orang. Dalam riwayat lain disebutkan bahawa beliau dipukul
dalam penjara sehingga mati. Kematian tokoh ilmuan Islam ini amat dirasai oleh dunia
Islam. Solat jenazahnya dilangsungkan 6 kali, setiapnya didirikan oleh hampir 50,000
orang jamaah. Abu Hanifah mempunyai beberapa orang murid yang ketokohan
mereka membolehkan ajarannya diteruskan kepada masyarakat. Antara anak-anak
murid Imam Abu Hanifah yang ulung ialah Zufar (158H/775M), Abu Yusuf (182H/798M)
dan Muhammad bin Hasan as-Syaibani(189H/805M).
Imam Malik bin Anas [93H/711M – 179H/796M]
Imam Malik bin Anas lahir di Madinah pada tahun 93H/711M. Beliau dilahirkan di dalam
sebuah kota yang merupakan tempat tumbuhnya Islam dan berkumpulnya generasi
yang telah dididik oleh para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, radhiallahu
‘anhum. Sejarah keluarganya juga ada hubungkait dengan ilmu Islam, dengan
datuknya sendiri adalah seorang perawi dan penghafal hadith yang terkemuka.
Pakciknya juga, Abu Suhail Nafi’ adalah seorang tokoh hadith kota Madinah pada ketika
itu dan dengan beliaulah Malik bin Anas mula mendalami ilmu-ilmu agama, khususnya
hadith. Abu Suhail Nafi’ ialah seorang tabi’in yang sempat menghafal hadith
daripada’Abdullah ibn ‘Umar, ‘Aisyah binti Abu Bakar, Ummu Salamah, Abu Hurairah
dan Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhum.
Selain Nafi’, Imam Malik bin Anas juga duduk berguru dengan Jaafar as-Shadiq, cucu
kepada al-Hassan, cucu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Imam Malik
juga duduk belajar di Masjid Nabawi, Madinah dan berguru dengan Muhammad Yahya
al-Ansari, Abu Hazim Salmah ad-Dinar, Yahya bin Saad dan Hishambin ‘Urwah. Mereka
ini semua ialah anak murid kepada para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Suasana kehidupan Imam Malik bin Anas di Madinah yang ketika itu dipenuhi dengan
para tabi’in amatlah menguntungkannya. Para tabi’in ini adalah mereka yang sempat
hidup bersama sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka
sempat belajar, mendengar hadith dan mengamalkan perbuatan para sahabat secara
terus. Inilah antara sebab kenapa Imam Malik bin Anas tidak pernah meninggalkan
Madinah kecuali apabila pergi menunaikan ibadat hajinya.
Imam Malik bin Anas kemudiannya mengambil alih peranan sebagai tokoh agama di
Masjid Nabawi, Madinah. Ajarannya menarik sejumlah orang ramai daripada pelbagai
daerah dunia Islam. Beliau juga bertindak sebagai Mufti Kota Madinah pada ketika itu.
Imam Malik juga ialah antara tokoh yang terawal dalam mengumpul dan membukukan
hadith-hadith Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam kitabnya al-Muwattha’.
Kitabnya ini menjadi hafalan dan rujukan orang ramai sehinggakan ia pernah
dikatakan oleh Imam as-Syafi’e sebagai:
“Tidak wujud sebuah buku di bumi yang paling hampir kepada al-Quran melainkan
kitab Imam Malik ini.”
Antara tokoh besar yang duduk belajar bersama Imam Malik ialah Imam Abu Hanifah
dari Kufah, Iraq. Selain itu diriwayatkan juga bahawa sebanyak 1,300 tokoh-tokoh lain
yang duduk bersama menuntut ilmu bersama Imam Malik di Masjid Nabawi. Antaranya
termasuklah Muhammad bin Idris, yang kemudiannya terkenal dengan gelaran Imam
as-Syafi’e. Ketinggian ilmu Imam Malik bin Anas pernah diungkap oleh Imam Ahmad
bin Hanbal sebagai:
“Imam Malik adalah penghulu daripara penghulu ahli ilmu dan beliau pula seorang
imam dalam bidang hadith dan fiqh. Siapakah gerangan yang dapat menyerupai Imam
Malik?”
Imam Malik pernah dihukum oleh gabenor Kota Madinah pada tahun 147H/764M
kerana telah mengeluarkan fatwa bahawa hukum thalaq yang cuba dilaksanakan oleh
kerajaan Abbasid sebagai tidak sah. Kerajaan Abbasid ketika itu telah membuat fatwa
sendiri bahawa semua penduduk perlu taat kepada pemimpin dan barangsiapa yang
enggan akan terjatuh thalaq ke atas isterinya. Memandangkan rakyat yang lebih
taatkan ulama’ daripada pemimpin, pemerintah Abbasid telah memaksa Imam Malik
untuk mengesahkan fatwa mereka. Imam Malik enggan, malah mengeluarkan fatwa
menyatakan bahawa thalaq sedemikian tidak sah (tidak jatuh thalaqnya). Imam Malik
ditangkap dan dipukul oleh gabenor Madinah sehingga tulang bahunya patah dan
terkeluar daripada kedudukan asalnya. Kecederaan ini amatlah berat sehinggakan
beliau tidak lagi dapat bersolat dengan memegang kedua tangannya di dada, lalu
dibiarkan sahaja terkulai di tepi badannya.
Imam Malik kemudiannya dibebaskan dari penjara dan beliau terus kembali mengajar
di Madinah sehinggalah beliau meninggal dunia pada 11 Rabiul-Awwal, tahun
179H/796M, ketika berusia 86 tahun (Hijriah). Di antara anak-anak murid beliau yang
masyhur ialah ‘Abdarrahman bin al-Qasim al-Tasyri (191H/807M), Ibn Wahhab Abu
Muhammad al-Masri (199H/815M) dan Yahya bin Yahya al-Masmudi (234H/849M).
Imam Muhammad bin Idris as-Syafi’e [150H/767M – 204H/820M]
Imam as-Syafi’e lahir di Gaza, Palestin pada tahun 150H/767M. Nama sebenarnya
ialah Muhammad bin Idris as-Syafi’e. Beliau mempunyai pertalian darah Quraisy dan
hidup tanpa sempat melihat ayahnya. Pada umur 10 tahun ibunya membawanya ke
Makkah untuk menunaikan ibadah Haji dan selepas itu beliau tetap berada di sana
untuk menuntut ilmu. Di Makkah Imam as-Syafi’e memulakan perguruannya dengan
Muslim bin Khalid al-Zanji, yakni mufti Kota Makkah ketika itu.
Kitab ilmu yang paling terkemuka pada ketika itu ialah al-Muwattha’ karangan Imam
Malik bin Anas, dan Imam as-Syafi’e dalam usia 15 tahun telah pun menghafal
keseluruhan kitab tersebut. Imam as-Syafi’e kemudiannya berhijrah ke Madinah untuk
berguru pula dengan penulis kitab itu sendiri, yakni Imam Malik bin Anas. Ketika itu
Imam as-Syafi’e baru berumur 20 tahun dan beliau terus duduk bersama Imam Malik
sehinggalah kewafatannya pada tahun 179H/796M. Ketokohan Imam as-Syafi’e
sebagai murid terpintar Imam Malik bin Anas mulai diiktiraf ramai. Imam as-Syafi’e
mengambil alih sebentar kedudukan Imam Malik bin Anas sebagai guru di Masjid
Nabawi di Madinah sehinggalah beliau ditawarkan satu kedudukan jawatan oleh
Gabenor Yaman. Jawatan Imam as-Syafi’e di Negeri Yaman tidak lama kerana beliau
telah difitnah sebagai pengikut mazhab Syi’ah. Selain itu pelbagai konspirasi lain
dijatuhkan ke atasnya sehinggalah beliau dirantai dan dihantar ke penjara di Baghdad,
yakni pusat pemerintahan Dinasti Abbasid ketika itu.
Imam as-Syafi’e dibawa menghadap kepada Khalifah Harun ar-Rashid dan beliau
berjaya membuktikan kebenaran dirinya. Kehandalan serta kecekapan Imam
as-Syafi’e membela dirinya dengan pelbagai hujjah agama menyebabkan Harun
ar-Rashid tertarik kepadanya. Imam as-Syafi’e dibebaskan dan dibiarkan bermastautin
di Baghdad. Di sini Imam as-Syafi’e telah berkenalan dengan anak murid Imam Abu
Hanifah dan duduk berguru bersama mereka, terutamanya Muhammad bin al-Hasan
as-Syaibani. Suasana ini memberikan kelebihan yang penting bagi Imam as-Syafi’e,
iaitu beliau berkesempatan untuk belajar dan membanding antara dua ajaran Islam,
yakni ajaran Imam Malik bin Anas dan ajaran Imam Abu Hanifah.
Pada tahun 188H/804M, Imam as-Syafi’e berhijrah pula ke Mesir. Sebelum itu beliau
singgah sebentar di Makkah dan di sana beliau diberi penghormatan dan dipelawa
memberi kelas pengajian agama. Imam as-Syafi’e kini mula diiktiraf sebagai seorang
imam dan beliau banyak meluahkan usaha untuk cuba menutup jurang perbezaan di
antara ajaran Imam Malik bin Anas dan Imam Abu Hanifah. Usahanya ini tidak
disambut baik oleh para penduduk Makkah kerana kebiasaan mereka adalah kepada
ajaran Imam Malik bin Anas.
Pada tahun 194H/810M, Imam as-Syafi’e kembali semula ke Baghdad dan beliau
dipelawa untuk memegang jawatan Qadhi bagi Dinasti Abbasid. Beliau menolak dan
hanya singgah selama 4 tahun di Baghdad. Imam as-Syafi’e kemudian kembali ke
Mesir dan memusatkan ajarannya di sana pula. Daud bin ‘Ali pernah ditanya akan
kelebihan Imam as-Syafi’e berbanding tokoh-tokoh lain pada ketika itu, maka beliau
menjawab:
“As-Syafi’e mempunyai beberapa keutamaan, berkumpul padanya apa yang tidak
terkumpul pada orang lain. Beliau seorang bangsawan, beliau mempunyai agama dan
i’tiqad yang sebenar, seorang yang sangat murah hati, mengetahui hadith sahih dan
hadith dhaif, nasikh, mansukh, menghafal al-Quran dan hadith, perjalanan hidup para
Khulafa’ ar-Rashidin dan amat pandai pula mengarang.”
Dalam usahanya untuk cuba menutup jurang perbezaan antara ajaran Imam Malik bin
Anas dan Imam Abu Hanifah, Imam as-Syafi’e menghadapi banyak tentangan daripada
para pengikut Mazhab Maliki yang amat taksub kepada guru mereka. Pada satu malam,
dalam perjalanan balik ke rumah dari kuliah Maghribnya di Mesir, Imam as-Syafi’e
telah diserang dan dipukul orang sehingga menyebabkan kematiannya. Pada ketika itu
Imam as-Syafi’e juga sedang menghadapi penyakit buasir yang agak serius.
Imam as-Syafi’e meninggal dunia pada 29 Rejab tahun 204H/820M di Mesir ketika
berumur 54 tahun (Hijriah). Beliau meninggalkan kepada dunia Islam sebuah kitab
yang paling agung dalam bidang usul fiqh berjudul ar-Risalah. Kitab ini adalah yang
terawal dalam menyatakan kaedah-kaedah mengeluarkan hukum daripada sesebuah
nas al-Qur’an dan as-Sunnah. Selain itu Imam as-Syafi’e juga meninggalkan kitab
fiqhnya yang termasyhur berjudul al-Umm. Ajaran Imam as-Syafi’e diteruskan oleh
beberapa anak muridnya yang utama seperti Abu Yaaqub al-Buwayti (231H/846M),
Rabi’ bin Sulaiman al-Marali (270H/884M) dan Abu Ibrahim bin Yahya al-Muzani
(274H/888M).
Imam Ahmad bin Hanbal [164H/781M – 241H/856M]
Imam Abu ‘Abdullah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal dilahirkan di Baghdad, Iraq,
pada tahun 164H/781M. Ayahnya seorang mujahid Islam dan meninggal dunia pada
umur muda, iaitu 30 tahun. Ahmad kemudiannya dibesarkan oleh ibunya Saifiyah binti
Maimunah. Imam Ahmad bin Hanbal menghafal al-Qur’an sejak kecil dan pada
umurnya 16 tahun beliau sudah menjadi penghafal hadith yang terkenal. Imam Ahmad
bin Hanbal meneruskan pengajian hadithnya dengan sekian ramai guru dan beliau
pada akhir hayatnya dijangkakan telah menghafal lebih daripada sejuta hadith
termasuk barisan perawinya.
Pada tahun 189H/805M Imam Ahmad bin Hanbal berhijrah ke Basrah dan tidak lama
kemudian ke Makkah dan Madinah untuk menuntut ilmu. Di sana beliau sempat duduk
berguru dengan Imam as-Syafi’e. Sebelum itu guru-gurunya yang masyhur ialah Abu
Yusuf, Husain ibn Abi Hazim al-Washithi, ‘Umar ibn ‘Abdullah ibn Khalid, ‘Abdurrahman
ibn Mahdi dan Abu Bakar ibn ‘Iyasy. Pada tahun 198H Imam Ahmad bin Hanbal ke
negeri Yaman pula untuk berguru dengan ‘Abdurrazzaq ibn Humam, seorang ahli
hadith yang besar ketika itu, terkenal dengan kitabnya yang berjudul al-Musannaf.
Dalam perjalanannya ini Imam Ahmad mula menulis hadith-hadith yang dihafalnya
setelah sekian lama.
Imam Ahmad bin Hanbal kembali semula ke Baghdad dan mula mengajar.
Kehebatannya sebagai seorang ahli hadith dan pakar fiqh menarik perhatian orang
ramai dan mereka mula mengerumuninya untuk belajar bersama. Antara anak
muridnya yang kemudian berjaya menjadi tokoh hadith terkenal ialah al-Bukhari,
Muslim dan Abu Daud. al-Qasim ibn Salam pernah berkata:
“Ahmad bin Hanbal adalah orang yang paling ahli dalam bidang hukum dan aku tidak
melihat ada orang yang lebih mengetahui tentang as-Sunnah selain beliau. Beliau tidak
pernah bersenda gurau, selalu berdiam diri, tidak memperkatakan apa-apa selain
ilmu.”
Imam Ahmad bin Hanbal pernah hidup di dalam penjara kerana kekerasannya
menentang Mazhab Mu’tazilah yang diterima oleh pemerintah Abbasid ketika itu.
Mereka (pemerintah) memaksa Imam Ahmad mengesahkan mazhab baru tersebut.
Imam Ahmad enggan dan ini menyebabkan beliau dirotan di dalam penjara sehingga
tidak sedarkan diri.
Akibat ketegasan Imam Ahmad bin Hanbal serta tekanan daripada para orang ramai
akhirnya menyebabkan pihak pemerintah Abbasid telah terpaksa membebaskan beliau
dari penjara. Imam Ahmad kemudiannya meneruskan pengajarannya kepada orang
ramai sehinggalah kematiannya pada tahun 241H/856M, ketika berusia 77 tahun
Hijriah.
Imam Ahmad bin Hanbal meninggalkan kepada dunia Islam kitab hadithnya
yang terkenal iaitu “al-Musnad” yang mengandungi lebih kurang 30,000 hadith
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan atsar para sahabat radhiallahu ‘anhum. Dua
orang anaknya yang utama meneruskan perjuangan ayah mereka, iaitu ‘Abdullah bin
Ahmad dan Shaleh bin Ahmad.
Mulutmu Harimaumu
Kerugian Melalaikan Waktu
KELEBIHAN ORANG BERILMU
Manusia yang mendapat sanjungan Allah SWT adalah golongan yang menyampai dan mendidik masyarakat. Mereka meneruskan segala kerja-kerja yang ditinggalkan Rasulullah SAW dalam menyempurnakan syariat ummah. Inilah golongan yang disebut sebagai ulama atau orang yang berilmu dan menjadikan hidup sebagai hamba agama dalam mentarbiah masyarakat agar mengenal pencipta.
Dalam al-Quran Allah menobatkan mereka melalui ayatnya yang bermaksud: …Allah meninggikan darjat orang-orang yang beriman di antara kamu dan Allah meninggikan orang-orang diberi ilmu pengetahuan agama (dari kalangan kamu) dengan beberapa darjat. Dan ingatlah, Allah amat mendalam pengetahuannya tentang apa yang kamu lakukan (al-Mujadalah: 11).
Betapa Allah memuliakan golongan yang berilmu atau disebut sebagai ulama. Ini kerana peranan mereka dalam sesebuah masyarakat terlalu besar. Mereka penerus dakwah Nabi Muhammad SAW dalam melengkapkan agama umat manusia. Mendidik dan mentarbiah jiwa-jiwa agar patuh dan taat kepada segala apa yang diperintahkan oleh Allah SWT dan menjauhi larangannya agar kita benar-benar faham mengapa kita diciptakan dan diletakkan di dunia sebagai hamba.
Pertama, membentuk akidah ummah (kepada siapa sembahan kita); Kedua, memahamkan tentang syariat (bagaimana kehidupan dan ibadah sebagai seorang mukmin) dan ketiga, membimbing gerak langkah umat supaya tidak ada rasa takbur dan riak dengan amalan dan sentiasa menjadikan Allah dan Rasul sebagai cinta utamanya.
Sejarah Islam/Nabawiyah & Tokoh tentang :SEJARAH PANJANG TARIKH GEREJA MASEHI
Sistim penanggalan dan perhitungan hari, lahir dari rahim astrologi yakni ilmu tentang pergerakan benda-benda langit seperti matahari, bulan dan rasi bintang. astrologi berasal dari Mesapotamia, daratan diantara sungai tigris dan Eufrat, daerah asal orang Babel kuno (kini Irak TEnggara). ilmu ini berkembang sejak jaman pemerintahan Babel kuni, kira2 th. 2000 SM.
Semula di Mesir kira2 1000SM, pr ahli perbintangan mempelajari benda2 langit hanya utk ramalan umum mengenai masa depan. pengetahuan astrologi ini diambil alih suku bangsa Babel.
Astrologi Babel kemudian mengembangkan suatu sistem yg menghubungkan perubahan musim dgn kelompok2 bintang tertentu yg disebut rasi atau konstelasi. Tetapi antara th. 600SM dan 200SM, mrk mengembangkan suatu sistem utk menghitung penanggalan hari dan menggambar horoskop perorangan.
Tarikh Masehi memiliki akar dan ikatan yg kuat dgn tradisi astrologi mesir kuno, Mesopotamia, Babel, yunani antik, dan Romawi tua serta dalam perjalanannya mendapat intervensi GEreja.
TArikh MAsehi adl tarikh yg dipakai secara internasinal, dan oleh kalangan gereja dinamakan Anno Domini (AD) terhitung seja kelahiran nabi Isa. as (yesus). semula biarawan Katolik, Dionisius Exoguus pd thn 527 M ditugaskan pimpinan Gereja utk membuat perhitungan tahun dengan titik tolak tahun kelahiran Nabi Isa as (Yesus).
Masa sebelum kelahiran Nabi Isa as (yesus) dinamakan masa sebelum masehi. semua peristiwa dunia sebelumnya dihitung mundur alias minus. dgn sebuah gagasan teologis Nabi Isa as (Yesus) sebagai penggenapan dan pusat sejarah dunia. Tahun kelahiran Nabi Isa. as (Yesus) dihitun tahun pertama atau awal perjanjian baru. Tarikh yg berdasarkan sistem matahari ini sebelum menjadi sempurna seperti yg kt kenal sekarang mengalami sejarah yg cukup panjang, sejak zaman Romawi, jauh sebelum pemerintahan Julis Caesar.
Maklumat Julis Caesar
1. Martius (Maret)
2. Aprilis ( April )
3. Maius ( Mei)
4. Junius ( Juni)
5. Quintilis ( Juli)
6. Sextilis (Agustus)
7. September (September)
8. October (oktober)
9. November (Nopember)
10.December (Desember)
seperti halnya dengan pemberian nama hari, pemberian nama bulan pada tarikh yang kemudian menjadi tarikh Masehi ini adan kaitannya dengan DEWA bangsa Romawi. contoh , bulan Martius mengambil nama Dewa Mars, bulan Maius mengambil nama dewa MAia dan bulan Junius mengambil nama dewa Juno.
sedangkannama2 Quintrilis, Sextrilis, September, October, November & December adl nama yg diberikan berdasarkan angka urutan susunan bulan. Quntrilis berarti bulan kelima, Sextilis bulan keenam, september bulan ketujuh, October bulan kedelapan dan December bulan kesepuluh.
adapun nama bulan Aprilis diambil dr kata Aperiri, sebutan utk cuaca yang nyaman didlm musim semi, berdasarkan nama2 tsb diatas nampak bhw pd zaman dahulu permualaan tarikh jatuh pada bulan maret.
hal ini erat kaitannya dgn musim dan pengaruhnya kepada tata kehidupan masyarakat di Erofa. bulan MAret (tepatnya 21 Maret) adl permulaan musim semi. awal musim semi disambut dgn perayaan sukacita krn dipandang sebagai mulainya kehidupan baru, setelah selama 3 bln mengalami musim dingin yg membosankan. jadi kedatangan musim semi ini dirayakan sebagai PERAYAAN TAHUN BARU setiap tahun.
tarikh yg hanya terdiri atas 10 bln itu kemudian berkembang menjadi 12 bln. berarti ada tambahan 2 bln, yaitu bln Januarius dan Februarius Januarius adl nama yg berasal dari nama dewa Janus, dewa ini berwajah dua, menghadap kemuka dan kebelakang, hingga dpt memandang masa lalu dan masa depan, sebab itu Januarius ditetapkan sebagai bln pertama.
Februarius diambil dari upacara Februa, yaitu upacara semacam bersih desa atau ruwatan utk menyambut kedatangan musim semi. dengan ini februarius menjadi bulan yang kedua, sebelum musim semi datang pd bln MAret.
demikianlah, maka bulan2 yg terdahulu letaknya di dalam tarikh baru menjadi tergeser dua bulan , dan susunannya menjadi : Januarius, FEbruarius, MArtius, Aprilis, Maius, Junius, Quintrilis, Sextilis, September, October, November dan december.
pd ahkhirnya, nama 2 Quintrilis sampai december menjadi tanpa arti, karena posisi dalam urutan kedudukannya yang baru didalam tarikh, tdk lg sesuai dgn arti yg sebenarnya, sistem yg dipakai waktu itu belum merupakan sistem matahari murni, msh banyak kesalahan atau ketidak-cocokan yg makin jauh melesetnya.
Pada saat JULIUS CAESAR berkuasa kemelesetan tlh mencapai 3 bulan dr patokan yg seharusnya.
dlm kunjungan ke MEsir thn 47 SM, Julius Caesar sempat menerima anjuran dr pr ahli perbintangan Mesir utk perpanjang thn 46 SM menjadi 445 hari dgn menambah 23 hr pd bln Februari dan menambah 67 hari antara bln November dan December.
Rupanya ini merupakan tahun pertama dalam sejarah, namun adanya kekacauan selama 90 hr itu, perjalanan tahun kembali cocok dengan musim.
Sekembali ke Roma Julis Caesar mengeluarkan maklumat penting dan berpengaruh luas hinga kini yakni penggunaan sistem matahari dalam sistem penanggalan seperti yang dipelajarinyitu dr Mesir.
adapun isi keputusannya adl :
Pertama, setahun berumur 365 hr. krn bumi mengelilingi matahari selama 365,25 hr, sebenarnya terdapat kelebihan 0,25x24jam = 6jam setiap tahun.
kedua setiap 4 tahun sekalu, umur tahun tdk 365 hr, tetapi 366 hr, disebut tahun kabisat. Tahun kabisat ini sebagai penampungan kelebihan 6 jam setiap tahun yg dlm 4 thn menjadi 4×6=24 jam atau 1 hr.
penampungan sehari tiap tahun kabisat ini dimasukkan dlm bln Februari, yg pd thn biasa berumur 29 hr, pd thn kabisat menjadi 30 hr.
sebagai peringatan atas jasa Julius Caesar dlm melakukan penyempurnaan tarikh itu, mk tarikh tersebut disebut tarikh JULIAN. dengan menganti nama bulan ke-5 yg semula Quintilis menjadi Julio, yg kt kenal sebgai bln Juli.
utk mengabdikan namanya, Kisar Augustus, yg memerintah stlah Julius Caesar, merubah nama keenam Sextilis menjadi Augustus. perubahan itu diikuti dgn menambah umur bln Augustus menjadi 31 hr, karena sblumnya bln Sextilis umurnya 30 hr saja, penmabahan satu hari itu diambilkan dr bln Februari, karena itulah bulan Februari umurnya hanya 29 hr atau28 hr pd tahun kabisat.
sementara waktu berjalan terus dan tarikh Julian yg sdh tampak sempurna itu, lama2 memperlihatkan kemelesetan juga. apabila pd zaman Julis Caesar jatuhnya musim semi mundur hampir 3 bulan, kini musim semi justru dirasakan maju beberapa hr dr patokan.
akhirnya kemelesetan itu dapat diketahui sebab2nya, kala revolusi bumi yg semula dianggap 365.25 hr, ternyata tepatnya 365 hr, 5 jam, 56 menit kurang beberapa detik, jd ada kelebihan menghitung 4 menit setiap tahun yang makin lama makin banyak jumlanya.
atas kemelesetan itu, Paus Gregious XIII pimpinan Gereja KAtolik di Roma pd thn 1582 melakukan koreksi dan mengeluarkan sebuah keputusan bulat :
Pertama, Angka tahun pd abad pergantian, yakni angka tahun yng diakhiri 2 nol, yg tdk hbs dibagi 400, misal 1700, 1800 dsb, bukan lg sebagai tahun kabisa (catatan: jd thn 2000 yg habis dibagi 400 adl thn kabisat)
Kedua untuk mengatasi keadaan darurat pd thn 1582 itu diadakan pengurangan sebanyak 10 hr jatuh pd bln October, pd bln Oktober 1582itu, setelah tanggal tgl 4 Oktober lsung ke tanggal 14 oktober pd thn 1582 itu.
Ketiga sebagai pembaharu terakhir Paus regious XIII meneapkan 1 Januai sebagai tahun baru lagi. berarti pd perhitungan rahib Katolik, Dionisius Exoguus tergusur. tahun baru bukan lagi 25 Maret seiring dengan pengetian nabi Isa. as (Yesu) lahir pd tgl 25, dan permualaan musim semi pd bln MAret.
Dengan keputusan tersebut diatas, khususnya yg menyangkut tahun kabisat, koreksi hanya akan terjadi setiap 3323 thn, karena dlm jangka tahun 3323 thn itu kekuarangan beberapa detik tiap tahun akan terkumpul menjadi satu hari, berarti bila tidak ada koreksi, tiap 3323 thn jatuhnya musim semi maju satu hari dari patokan, dalam perkembangannya, tarikh masehi dpt diterima oleh seluruh dunia utk perhitungan dan pendokumentasian saktu scr internasional.
Sikap Islam
Peringatan
Qs.39/14. Katakanlah : “Hanya Allah saja yang aku sembah dengan memurnikan ketaatankepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku
menurut ayat diatas umat Islam diperintahkan dlm mengabdi kepada Allah SWT hrs memurnikan ibadahnya. artinya umat Islam hanya boleh menjalanan apa yang diperintahkan Allah swt, dan menjauhi apa yang dilarang-Nya.
sebagai perumpamaan; apabila seorang majikan mempunyai banyak karyawan, maka semua karyawan tidak boleh mencampurkan perintah majikan dengan perintah diluar majikan. maka apabila ada karyawan yg memakai aturan orang lain maka karyawan tersebu akan dipecat.
Peringatan
Qs. 2:12. : Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. KAtakanlah:”sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”.
Larangan
Qs. 2:120 : Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemuan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu Qs. 2:135; 2:109; 86:15; 5:82; 41:26; 4:45,46; 4:52; 5:81; 5:62; 62:6; 13:36; 63:4; 3:160; 4:16; 6:116; Yer 35:12-18
Tarikh tahun Masehi yg dipakai secara internasional sekarang ini ternyata bukan perhitungan tahun Masehi secara murni. tetapi perhitungan berdasarkan Astrologi Mesopotamia yg dikembangkan oleh astronum-astronum pr penyembah dewa-dewa. maka nama2 bulanpun memakai nama dewa dan tokoh2 penceus tarikh kalender Masehi.
Tarikh masehi yang sekarang ditetapkan oleh Paus Katolik dan menjadi tradisi umat Kristen se-Dunia.
semoga umat Islam memikirkan masalah ini
Kata-kata Mutiara Islam
ok saya akan menulisakan kata-kata mutiara islam yg banyak menyentuh hati bisa membuat hati kita menagis tanpa ada rasa yg masuk kedalam hati silahkan dilihat bagai mana isi kata-kata mutiara yg saya tulis ini:
★ Lebarnya jilbab mu
bukan karena diri mu
lebih
baik, tapi hanya ingin
menjadi lebih baik.
★ Panjangnya kerudung
mu bukan karena diri mu
wanita suci tak
bernoda, tapi tak ingin
membuat
liar pandangan para pria.
★ Tertutup rapatnya
semua aurat mu bukan
berarti
diri mu mulus tanpa
dosa, hanya ingin
menutup
satu pintu dosa yang
bisa dilakukan wanita.
★ “Tidaklah beriman
seseorang dari kamu
hingga
kehendak hatinya patuh
mengikuti apa yang
telah
aku bawa (syariat
Islam)” -HR. Hakim-
★ Dan, diri mu hanya
ingin cantik menurut
Allah,
bukan menurut
manusia.
Duhai Cantik…
Ketika seseorang
meninggalkan mu, maka
janganlah berharap dan
menunggu dia untuk
kembali lagi padamu.
Cintai juga dirimu dan
beranilah berkata…
“Terima kasih telah
memberiku kesempatan
untuk menemukan
seseorang yang lebih
mulia dan lebih baik
darimu…!!!”
Ya Allah…
Jika cintaku padanya
membuat aku terluka
Aku mohon obatilah luka
dalam hatiku
berikan aku pengganti
yang lebih baik dari
dia yang membuat aku
terluka seperti ini.
Jika pertemuanku
padanya tidak berakhir
dengan indah aku
berharap jangan engkau
pertemukan aku lagi
dengan dirinya.
Aku ingin kekasih yang
setia yang akan aku
cintai seutuh rasa,
sepenuh hati dan
selamanya Sampai aku
menutup mata dan
menghadapmu Tuhanku
yang maha kuasa.
Warahmatullahi
Wabarakatuh..
” 10 KELEBIHAN ORANG
YANG SELALU
MELAKSANAKAN
SHALAT “
1. Diberi Cahaya pada
wajah..
2. Dikurniakan ALLAH
Subhanahu Wata’ala
akal yang cerdas & otak
yang pintar..
3. Hati bercahaya &
tenang jiwa..
4. Sejahtera keluarga
(sakinah,
mawaddah,warahm
ah)..
5. Di padang Masyhar
tidak.. kepanasan malah
sebaliknya..
6. Dapat rahmat &
hidayah dari ALLAH
Subhanahu Wata’ala..
7.Doanya sering di
kabulkan..
8. Diberatkan timbangan
amal & menerima buku
catatan amal melalui
tangan kanan di akhirat
kelak (baik)..
9. Dipermudahkan jalan
menuju ke syurga
ALLAH..
10.Melintasi jembatan
shiratal mustakim di
permudah..
(Al-Imam Ibnu Hajar Al-
Asqalani)
YA ALLAH :Jadikanlah
orang Yang membaca
status ini agar
senantiasa
melaksanakan Shalat
Lima waktu..Aamiin..
YANG TIDAK AKAN
BUSUK DI DALAM
KUBUR★
1). Para Nabi-Nabi..
2). Para Ahli Jihad
Fisabilillah..
3). Para Alim Ulama..
menegakkan kalimah
ALLAH..
4). Para Syuhada
sentiasa
memperjuangkan Islam..
5). Para Penghafal Al-
Qur’an.. dan beramal
dengan Al-Qur’an..
6). Imam atau Pemimpin
yang Adil dalam
menegak Syariat
ALLAH..
7). Tukang Adzan yang
tidak meminta habuan..
8 ). Wanita yang mati
semasa melahirkan
anak serta sentiasa
taat pada perintah
ALLAH..
9). Orang mati dibunuh
atau dianiaya karena
mempertahan Maruah
dan Agama..
10). Orang yang mati di
siang hari atau di malam
Jum’at jika mereka itu
dari kalangan orang
yang beriman yang
sentiasa menjaga
hukum agama semasa
hidup di atas dunia.. (HR.
Bukhari Muslim)
Subhanallah,,,, ,
Semoga yang hadir disini
semua mati dalam
keadaan khusnul
khotimah,
Aamiin..
Aamiin Allah
huma’aamiin.

